MENDERITA BERSAMA SANG ANAK ALLAH
18 April 2025
📖 Markus 15:20b–32, Markus 15:33–39
Ketika Yesus memikul salib-Nya menuju Golgota, Ia bukan hanya memikul beban kayu yang berat, tetapi juga menanggung seluruh beban dosa dunia. Ia dicemooh, diludahi, disalibkan di antara para penjahat, dan ditelanjangi dari segala kehormatan duniawi. Penderitaan-Nya begitu dalam dan menyakitkan. Namun yang paling menggetarkan adalah, bahwa Ia tetap taat. Ia tidak melawan. Ia tetap mengasihi.
Di tengah cemoohan, bahkan dari salah satu penjahat yang disalibkan bersama-Nya, Yesus diam. Ia menderita bukan karena lemah, tetapi karena kasih-Nya begitu kuat. Dan di puncak penderitaan-Nya, ketika kegelapan menyelimuti bumi, Yesus berseru, “Eloi, Eloi, lama sabaktani?”—ungkapan rasa ditinggalkan yang paling dalam dari Anak Allah kepada Bapa-Nya. Ia merasakan keterpisahan dari Allah agar kita tidak perlu mengalaminya.
Namun justru di tengah penderitaan yang dalam itu, kesaksian yang luar biasa keluar dari mulut seorang perwira Romawi: “Sungguh, orang ini adalah Anak Allah!” Penderitaan Yesus bukan hanya menyelamatkan, tetapi juga menyatakan identitas sejati-Nya. Ia adalah Mesias yang sejati—bukan yang datang dengan kuasa dunia, melainkan dengan kasih dan pengorbanan.
Dari peristiwa ini, kita diajak untuk tidak takut akan penderitaan. Mengikut Kristus artinya bersedia menanggung salib, entah dalam bentuk kesetiaan di tengah penolakan, kasih di tengah kebencian, atau pengharapan di tengah kegelapan. Kesaksian iman yang sejati seringkali lahir bukan dalam kenyamanan, melainkan dalam penderitaan. Penderitaan kita, bila dijalani bersama Kristus, menjadi jalan kemuliaan.
Mari kita bertanya pada diri sendiri: Apakah kita siap menderita demi kebenaran dan kasih? Apakah kita mau tetap setia ketika dunia mencemooh kita karena iman kita? Renungan ini mengingatkan kita bahwa penderitaan bukanlah akhir, melainkan jalan menuju pengenalan yang lebih dalam akan siapa Yesus sesungguhnya: Sang Anak Allah yang rela menderita untuk menyelamatkan kita.
Doa :
Tuhan Yesus, ajari kami untuk tetap setia di jalan salib-Mu. Berilah kami kekuatan saat kami harus menanggung penderitaan karena iman. Teguhkan hati kami agar tetap melihat kemuliaan-Mu dalam setiap luka hidup ini.
Amin.