IMAN YANG JUJUR, YESUS YANG SETIA MENUNGGU
03 Maret 2026
Markus 9:19; 9:20–24
Saudara-saudara terkasih, dalam Markus 9 kita melihat dua hal yang kontras tetapi saling melengkapi. Di satu sisi, Yesus berkata, “Hai generasi yang tidak percaya…” — ada nada teguran di sana. Di sisi lain, ada seorang ayah yang datang dengan jujur dan berkata, “Aku percaya. Tolonglah aku yang tidak percaya ini.” Teguran dan belas kasih bertemu dalam satu momen. Yesus tidak meninggalkan mereka. Dia tetap menunggu. Ia menunggu iman yang hidup, bukan iman yang sekadar melihat mujizat lalu selesai.
Sering kali kita juga begitu. Kita kagum pada hasil, pada yang kelihatan hebat, pada pelayanan yang tampak berhasil. Tapi Tuhan sedang mencari hati. Bukan sekadar yang tampil rohani, tetapi yang sungguh-sungguh bersandar. Iman bukan soal seberapa keras kita terlihat yakin. Iman adalah keberanian untuk datang apa adanya. Bahkan ketika rapuh. Bahkan ketika masih ada ragu. Justru di titik itu, iman mulai bernapas.
Ayah dalam kisah ini tidak pura-pura kuat. Ia tidak menutupi kelemahannya. Ia jujur. Dan kejujuran itu membuka jalan bagi kuasa Tuhan. Dengarkan baik-baik, jemaat yang dikasihi Tuhan: Yesus tidak menjauh dari orang yang ragu. Dia menjauh dari kesombongan, tetapi mendekat pada kerendahan hati. Dunia hari ini memuja kemampuan, teknologi, strategi. Semua itu baik. Tapi tanpa hati yang berserah, semuanya kosong. Tuhan tidak mencari iman yang sempurna. Ia mencari hati yang mau diproses.
Maka hari ini, kalau ada di antara kita yang sedang bergumul, yang merasa iman naik turun, jangan lari. Datanglah. Katakan seperti ayah itu: “Tuhan, aku percaya. Tolonglah aku.” Dan percayalah, Yesus masih sama. Dia menunggu. Dia sabar. Dia bekerja dalam proses. Iman yang jujur akan selalu menemukan Yesus yang setia. Amin.