PEGANG ERAT DAN PERCAYA SUNGGUH-SUNGGUH
04 Maret 2026
Markus 11:20–26
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, Yesus berkata tegas, “Percayalah kepada Allah!” Itu bukan sekadar kalimat rohani untuk ditempel di dinding rumah. Itu perintah. Itu undangan. Itu fondasi. Dalam Markus 11 kita melihat pohon ara yang tampak subur tetapi tidak berbuah. Dari luar kelihatan hidup, tetapi kosong. Hati-hati, jangan sampai iman kita juga begitu—rame aktivitas, penuh simbol, tapi tidak sungguh bersandar pada Tuhan.
Percaya itu bukan soal kita melihat jalan di depan jelas tanpa kabut. Percaya itu seperti anak yang duduk di belakang motor bapanya—jalannya mungkin berlubang, pandangan mungkin terbatas, tapi dia pegang erat karena dia tahu siapa yang mengemudi. Masalahnya, sering kali kita lebih suka pegang setang sendiri. Kita mau atur Tuhan lewat doa-doa kita. Kita mau jawaban cepat, sesuai skenario kita. Padahal iman sejati bukan mengatur Tuhan, tapi menyerahkan kendali pada-Nya.
Yesus berkata, kalau kita percaya tanpa bimbang, gunung pun bisa pindah. Itu bukan ajaran tentang kesaktian, tetapi tentang hati yang utuh. Iman bukan optimisme kosong. Iman adalah keberanian untuk tetap percaya walau logika belum mendukung, walau hasil belum kelihatan. Dan jangan lupa, dalam bagian ini Yesus juga bicara tentang pengampunan. Artinya apa? Iman yang sejati selalu disertai hati yang bersih. Tidak bisa kita minta gunung pindah kalau hati kita penuh kepahitan.
Hari ini saya mau tanya dengan jujur: kita ini sungguh percaya, atau masih mau mengatur Tuhan? Dunia mengajarkan kita untuk mengandalkan data, strategi, dan kemampuan diri. Semua itu penting. Tapi di atas semuanya, pegang erat Tuhan. Percaya penuh. Bukan iman setengah-setengah. Bukan percaya kalau cocok saja. Pegang erat, jangan lepaskan. Karena ketika kita sungguh percaya kepada Allah, kita tidak sedang berjalan sendirian. Amin.