KASIH YANG TIDAK LAPUK OLEH WAKTU
15 Juni 2025
📖 Yesaya 40:1–11
Dunia ini terus berubah. Musim datang silih berganti. Apa yang dulu dianggap penting, hari ini bisa dibuang begitu saja. Janji manusia bisa berubah seiring keadaan. Rasa cinta bisa memudar karena kecewa. Tapi di tengah semua yang fana ini, ada satu hal yang tetap: kasih Allah. Ia tidak tergantung suasana hati. Ia tidak mengenal tanggal kedaluwarsa. Kasih-Nya tidak pernah habis, dan firman-Nya tidak pernah gagal.
Manusia punya kebiasaan membatasi kasih dengan logika. Jika aku baik, maka aku dikasihi. Jika aku gagal, maka aku ditinggalkan. Tapi kasih Tuhan tidak mengikuti pola itu. Ia datang justru di saat kita layak dihukum. Ia berbicara lembut justru di saat kita paling keras kepala. Dan ketika manusia mulai melupakan-Nya, firman-Nya tetap berdiri teguh seperti gunung yang tak tergoyahkan.
Renungan ini menjadi teguran bagi kita yang terlalu sibuk mengejar kasih yang fana, dan lupa bahwa kasih sejati tidak dicari—ia sudah diberikan. Kita terlalu gampang kecewa ketika tidak dihargai oleh orang lain, padahal kita sudah dimenangkan oleh kasih yang lebih besar. Kita haus akan validasi dari manusia, tapi menutup telinga terhadap suara firman yang tak pernah berubah.
Kita juga sering memperlakukan firman Tuhan seperti opini yang bisa disesuaikan. Bila cocok dengan keinginan kita, kita peluk. Bila bertentangan, kita tolak diam-diam. Tapi firman Tuhan bukan pendapat, melainkan kebenaran yang hidup. Ia tidak tunduk pada kehendak kita, justru kitalah yang harus tunduk pada-Nya. Firman itu tetap sama dari awal zaman sampai selamanya—karena Ia lahir dari kasih yang abadi.
Kasih-Nya menghibur dan menguatkan, tapi juga menuntun dan membentuk. Firman-Nya mengangkat yang jatuh, tapi juga merobohkan keangkuhan. Mari kita kembali kepada dasar iman kita: bahwa tidak ada yang lebih pasti, lebih kokoh, dan lebih layak dijadikan pegangan selain kasih dan firman Tuhan. Di dunia yang terus berubah, kita punya satu hal yang tetap: Dia yang kasih-Nya tak lapuk oleh waktu.
🙏 Doa:
Ya Tuhan, kasih-Mu tidak berubah walau dunia berganti rupa. Firman-Mu tetap kokoh, jadi tempatku bersandar dan dibentuk. Ajarku untuk tidak mencari pegangan lain selain Engkau. Tolong aku hidup dalam kasih-Mu, dan setia mendengar suara-Mu. Amin.
💡 “Kasih Tuhan tidak menyesuaikan zaman. Zamanlah yang seharusnya tunduk pada kasih dan firman-Nya.”